img

Metode Life Cycle Assessment Menjawab Solusi Dampak Lingkungan Industri Kelapa Sawit di Indonesia

by: superadmin / 20 Jul, 2020

PT Dakara Consulting LCA Indonesia kembali hadir dengan webinar seri ke 3 dengan tema “Implementasi LCA Pada Industri Kelapa Sawit” yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni 2020, hari Selasa, pukul 12.30 – 15.00 WIB. Webinar tersebut diikuti oleh 100 peserta yang berasal dari organisasi pemerintahan, organisasi, industri, akademisi dan organisasi lainnya.

Life Cycle Assessement adalah metode untuk mengevaluasi masukan, keluaran dan dampak lingkungan potensial dari sistem produk disepanjang daur hidupnya (cradle to grave). Sangat banyak manfaat dari LCA baik untuk industri maupun lingkungan, seperti memperoleh hasil produksi yang optimal dan efisien, untuk membantu menemukan continuous improvement sehingga dapat menjaga lingkungan untuk masa depan nanti.

Webinar tersebut dihadiri oleh 3 narasumber yang membahas tentang perkembangan sawit di Indonesia. Narasumber pertama merupakan Peneliti pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yaitu Dr. Muhammad Ansori Nasution yang memberikan materi mengenai “LCA Sawit dan Strategi Penurunan Dampak Lingkungan di Industri Kelapa Sawit”. Beliau mengatakan, bahwa kelapa sawit memiliki pro dan kontra, karena selain baik untuk peningkatan perekonomian masyarakat, kelapa sawit juga menghasilkan emisi dan limbah yang berbahaya untuk lingkungan. Namun apabila emisi dan limbah yang dihasilkan tersebut diolah, akan meningkatkan nilai tambah kelapa sawit. Beliau lebih lanjut menjelaskan mengenai konsep teknologi baru dalam menurunkan emisi yang terdiri dari methane capture yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau POME (palm oil mill effluent), pembangkit listrik dari biogas yang hasil olahan POME, optimalisasi kinerja pabrik kelapa sawit (PKS), dan pemanfaatan limbah padat. LCA atau life cycle assessment merupakan metode yang digunakan untuk menghitung penurunan emisi kelapa sawit dari penerapan konsep teknologi baru yang sebelumnya sudah dijelaskan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa setelah menerapkan konsep teknologi baru penurunan emisi, optimalisasi PKS dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 50%, pemanfaatan limbah padat khususnya tandan kosong atau EFB (empty fruit bunch) menjadi pupuk dapat mengurangi emisi GRK sebanyak 18,7%, dan penambahan jumlah methane capture dalam PKS dapat mengurani emisi GRK sebanyak 8,7%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa LCA sangat berguna untuk membantu pemerintah, pelaku industri dan pemiliki kepentingan lainnya pada industri kelapa sawit untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh PKS.

Narasumber selanjutnya, yaitu Bapak Dr. Soni Sisbudi Harsono yang merupakan Founder ILCAN sekaligus Dosen Universitas Jember. Beliau memaparkan tentang “Potensi Penurunan Emisi Melalui Pemanfaatan Biochar di Industri Kelapa Sawit Berbasis Circular Economy”. Biochar merupakan tanah yang diproduksi dari tandan kosong kelapa sawit, yang dihasilkan sebanyak 18%. Biochar dihasilkan melalui proses pirolisis lambat (slow pyrolysis), yaitu proses pembakaran tanpa oksigen yang menghasilkan arang karbon, minyak dan gas yang dapat dibakar. Pemanfaatan limbah khususnya tandan kosong menjadi biochar atau produk lainnya berbasis circular economy, bisa disimpan dalam waktu yang lama, memiliki harga yang lebih ekonomis dan kembali ke alam. Hasil perhitungan dengan metode LCA menunjukkan bahwa proses pirolisis menghasilkan emisi GRK terbesar pada produksi biochar. Kesimpulan yang bisa diambil adalah produksi biochar dari tandan kosong kelapa sawit dapat mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan, dan dapat menghasilkan sumber energi baru ataupun pupuk organik yang lebih ramah lingkungan.

Narasumber terakhir adalah Bapak Dr. Kiman Siregar, S.TP, M.Si, merupakan Ketua Umum ILCAN sekaligus Dosen Universitas Syiah Kuala yang melakukan LCA kelapa sawit, memberikan materi kepada peserta webinar mengenai “Manfaat dan Implementasi LCA pada Optimalisasi Proses Produksi & Dampak Lingkungan Pemanasan Global di Industri Kelapa Sawit”.  Beliau mengatakan bahwa dampak lingkungan di industri kelapa sawit bisa dikurangi kalau produktivitasnya meningkat, karena pembagi dalam perhitungan menggunakan LCA adalah unit fungsi, sehingga jika produktivitas ditingkatkan maka jumlah emisi akan berkurang. Selain itu, selama ini perhitungan LCA kelapa sawit hanya dititikberatkan pada minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil) yang dihasilkan, akibatnya jumlah emisi akan terlihat besar. Padahal hampir semua bagian dalam kelapa sawit dapat digunakan untuk menghasilkan produk, sehingga seharusnya jumlah emisi yang dihasilkan dibagi secara merata pada produk yang dihasilkan tersebut. Beliau selanjutnya juga menjabarkan mengenai manfaat-manfaat apa saja yang bisa didapatkan oleh industri dalam implementasi LCA, seperti mendapatkan hasil kuantitatif dari beberapa dampak lingkungan yang lebih komperehensif karena sudah mempertimbangkan hasil dari material, emisi ke udara, emisi ke air, emisi ke tanah, waste to treatment seperti GHG Emision, Acidification, Eutrophication, dan lain-lain. Manfaat lainnya menemukan hotspot pada sistem produk yang perlu untuk dilakukan continuous improvement, sehingga perbaikan berkelanjutan yang dilakukan menjadi lebih akuran, serta juga berguna untuk menambah dan menyumbang database baik secara regional, nasional, dan internasional, dan manfaat-manfaat lainnya.

Setelah pemaparan materi selesai disampaikan, acara webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada banyak pertanyaan yang diberikan oleh peserta dikarenakan antusiasnya dari para peserta. Pada sesi penutup dapat disimpulkan bahwa metode LCA dapat membantu pemerintah, pelaku industri dan pihak lainnya, khususnya yang terlibat dalam industri kelapa sawit untuk membuktikan kepada pihak nasional dan internasional bahwa kelapa sawit tidak berbahaya terhadap lingkungan. Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk banyak produk, sehingga harus terus didukung karena memberikan banyak keuntungan bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi negara lain yang memanfaatkan kelapa sawit.

 PT Dakara Consulting LCA Indonesia juga akan kembali mengadakan Web-training LCA PROPER pada tanggal 11-14 Agustus 2020 untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin memahami LCA. Untuk mendaftar silahkan kunjungi https://bit.ly/Webtraining-LCA-PROPER. PT Dakara Consulting LCA Indonesia juga memiliki program bagi penggiat LCA yang mau mendalami perhitungan daur hidup baik secara manual maupun dengan bantuan software yang bisa dikunjungi pada https://bit.ly/calculateLCAproject.